Sabtu, 25 November 2017

"PAHAMI AKU"



Assamualaykum wr wb.
Tabik pun.🙏🙏

Memiliki anak yang berprestasi dan dapat mengikuti pelajaran sekolah dengan baik tentunya menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi orang tua..

Banyak cara yang dilakukan orang tua untuk membuat anaknya memiliki prestasi sendiri..
Mulai dari privat, kursus,  dll..
Mereka menekan anak untuk dapat tampil baik di sekolah, dan ketika mereka gagal untuk melakukan baik dalam kegiatan akademik atau lainnya,  mereka akan dihukum,  dimarahi,  atau bahkan dipukul..

Sadarkah kita bahwa apa yang kita lakukan ini kurang tepat .  Mengapa penulis katakan kurang tepat ?
Berdasarkan hasil penelitian Lise Gliot pada anaknya sendiri dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan ke monitor komputer menunjukkan ketika anak dimarahi atau di bentak terjadi reaksi destruktif pada neuron atau sel sel saraf otak anak.
Akibatnya anak akan mengalami gangguan kecerdasan seperti lambat saat menerima pembelajaran, berfikir atau memutuskan sesuatu hal..

Jangan selalu memikirkan role atau konsekuensi apa yang akan kita berikan jika anak kita melakukan kesalahan, dengan harapan anak akan menjadi tertib atau patuh pada kita..
Tapi berpikirlah mengapa anak kita tidak dapat tertib dan patuh, artinya kita harus introspeksi diri terlebih dahulu salahkah kita memberikan metodenya?

Ayah bunda,  mendidik anak dengan cinta dan kelembutan adakalanya memang tidak semudah ketika mengucapkannya. Namun kita kembali mengingat betapa dahsyatnya dampak buruk yang bisa diakibatkan oleh bentakan yang berkelanjutan dalam jangka panjang..

Dibawah ini beberapa tips yang mungkin berguna untuk meredam amarah dan mencegah membentak jika anak berbuat salah:
1. Ketika anak kita berteriak usahakan jangan terpengaruh untuk berteriak atau membentaknya lebih keras,  namun dekatilah anak sentuh ia dengan kasih dan sayang dan bicaralah dengan lembut.
2. Sebelum kita kehilangan kontrol untuk membentak anak,  ingatkan pada diri kita bahwa anak adalah peniru ulung.  Ia akan menirukan setiap kata-kata kasar yang kita teriakkan.
3. Ingat kepribadian anak di masa depan adalah hasil pembentukan kita di masa sekarang..
4. Segera merubah bentuk posisi kita,  seperti dari berdiri menjadi duduk.  Hal ini akan menurunkan ketegangan emosi kita..
5. Ketika emosi kita telah memuncak,  palingkan muka kita dari anak atau pergi ke ruangan lain untuk menenangkan diri sejenak..
6.  Pejamkan mata dan tarik nafas kemudian hembuskan perlahan.  Hal ini akan membuat dada yang sesak terasa longgar dan lebih lapang

Orang tua sebagai orang yang lebih dewasa dituntut untuk dapat mengelola emosi.  Ketika anak berbuat salah,  katakan salah dengan memberikan pengertian atau ajak anak diskusi jika anak berhasil tidak mengulangi kesalahannya dalam jangka waktu tertentu maka berikan reward, bukan dengan cara memarahi atau membentak-bentak.

Mengajak anak berdiskusi adalah cara tepat mendengarkan ia, karena hakikatnya setiap manusia ingin didengarkan.
Berdiskusi dengan anak jangan hanya bercerita atau saling mengungkapkan tapi buatlah suatu perjanjian seperti halnya aturan ketika melanggar anak atau pun diri kita siap menerima kosekwensinya (aturan jgn hanya berlaku untuk anak tetapi kita sebagai orangtua pun memiliki aturan) sehingga anak tidak merasa tertekan.

Semoga secuil tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang insyaallah dirahmatih Allah.. So jangan lagi memarahi atau bahkan membentak anak.. 😁